Jumat, 25 Februari 2011

MENJADIKAN KAWASAN ANCOL MENUJU KAWASAN WATERFRONT CITY TINGKAT DUNIA
(sebuah kajian )

Rekreasi bermakna
Rekreasi merupakan suatu bentuk kegiatan yang khas), sebagai salah satu sikap ataupun sebagai suatu pendapat yang dianut terhadap suatu cara hidup yang khas. Rekreasi dapat dirasakan sebagai suatu bentuk pengalaman. Rekreasi dapat juga diartikan sebagai spirit hidup sehingga dapat dihubungkan dengan atau dianggap sebagai suatu pernyataan jiwa, bahkan beberapa orang dari kalangan pendidikan melihat rekreasi sebagai suatu cara atau metode sekaligus proses pendidikan. Dalam rekreasi terdapat elemen-elemen permainan sehingga orang-orang yang sedang berekreasi dikatakan mereka sedang bermain. Elemen bermain ini dibedakan untuk anak-anak, orang muda, serta orang dewasa.
Rekreasi adalah suatu aktivitas, kegiatan tersebut bersifat fisik, mental, maupun emosionil. Rekreasi menghendaki aktivitas dan tidak selalu bersifat non-aktif. Rekreasi dilakukan karena terdorong oleh keinginan atau mempunyai motif motif tersebut sekaligus memilih gerakan atau bentuk dan macam aktivitas yang hendak dilakukan. Rekreasi hanya dilakukan pada waktu senggang, ini berarti bahwa semua kegiatan yag tidak dilakukan dalam waktu senggang tersebut tidak dapat digolongkan sebagai kegiatan rekreasi.
Rekreasi dilakukan secara bebas dari segala bentuk dan macam paksaan; hal ini adalah penting bagi sifat kegiatan rekreasi sebagai outlet for the creative powers dan sebagai sarana untuk menyatakan diri secara bebas. Rekreasi bersifat universal; rekreasi hingga batas-batas tertentu telah merupakan bagian daripada kehidupan manusia, dari semua bangsa, dan tidak terbatas oleh umur,jenis kelamin, pangkat dan kedudukan sosial.
Rekreasi dilakukan selalu secara sungguh-sungguh dan mempunyai maksud maksud tertentu. Kesungguhan merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan kepuasan dan kesenangan. Rekreasi adalah fleksibel, berarti bahwa rekreasi tidak dibatasi oleh tempat, tetapi dapat dilakukan di mana saja sesuai bentuk dan macam kegiatan rekreasi dapat dilakukan. Selanjutnya rekreasi dapat juga dilakukan oleh perorangan maupun oleh kelompok orang. Rekreasi tidak dibatasi oleh kemampuan seseorang, baik orang miskin maupun kaya dapat menikmatinya. Rekreasi tidak dibatasi oleh fasilitas-fasilitas atau oleh alat-alat tertentu, tetapi rekreasi dapat dilakukan dengan alat-alat sederhana maupun dengan alat-alat baru yang lebih modern. Dari pengertian rekreasi yang telah diuraikan diatas penulis menyimpulkan bahwa rekreasi adalah kebutuhan dasar manusia yang dilakukan secara khas dengan berbagai cirinya.

Untuk apa rekreasi ?
Rekreasi merupakan salah satu kebutuhan fundamental manusia, melalui rekreasi orang dapat menjumpai, mengalami, dan menikmati kebahagiaan hidup. Adapun beberapa kegunaan rekreasi yang dihubungkan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat, diantaranya:
Rekreasi untuk kesehatan.
Rekreasi dapat menambah dan memelihara kesegaran dan kesehatan jasmani setiap individu. Bahkan beberapa bentuk kegiatan rekreasi tertentu dapat menambah stabilitas perkembangan fisik yang bersifat kreatif.
Rekreasi untuk mental
Rekreasi dapat membina sikap hidup sehat dan membahagiakan; rekreasi juga dapat menyediakan kemungkinan-kemungkinan untuk menyalurkan tenaga fisik dan daya pikiran yang kurang dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, rekreasi khususnya musik, kesenian, dan pekerjaan tangan tepat sekali untuk memperbaiki atau merehabilitir harga diri seseorang.

Rekreasi untuk pencegahan kriminalitas
Rekreasi dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kejahatan serta kenakalan anak-anak atau remaja. Dalam hal ini rekreasi bukan merupakan usaha untuk menghilangkan kejadian-kejadian tersebut tetapi berguna untuk menyalurkan ambisi dan kehausan akan aktivitas anak-anak dan remaja ke arah yang lebih berguna.
Manusia membutuhkan inspirasi. Pada saat orang merasakan dirinya kurang tenang, kurang percaya diri, menghadapi banyak tekanan hidup, maka melalui rekreasi dapat menimbulkan Segala sesuatu yang diselenggarakan dan diusahakan di bidang rekreasi untuk tujuan-tujuan kemajuan tersebut, meskipun membutuhkan banyak modal, tidak akan terbuang bahkan merupakan suatu capital investment yang sangat berharga.Demikian banyak dan beragamnya kegunaan rekreasi sehingga tidak sedikit orang mau mengorbankan dana untuk mendapatkan kepuasan dari berekreasi.
Kita mengenal kawasan wisata Ancol disamping sebagai tujuan wisata warga Jakarta juga kota lain disekitarnya. Kawasan ini merupakan kawasan terpadu dan terbesar di Asia saat ini dan upaya menjadi salah satu tujuan wisata pilihan kelas dunia. Sudah saatnya pihak manajement PT Pembangunan Jaya Ancol terus melakukan inovasi di berbagai hal. Sebagai warga negara Indonesia saya ingin sumbang saran kepada pihak menajement semoga bermanfaat. Saya sebagai pendidik akan memulai dari hal yang sederhana membekali masyarakat dengan paradigma baru tentang rekreasi, sehingga mereka mandapatkan manfaat maksimal ketika mereka melakukan kegiatan tersebut. Kata rekreasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu recreation yang berarti hiburan. Rekreasi berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti penyegaran kembali badan dan pikiran; sesuatu yang menggembirakan hati dan menyegarkan seperti hiburan, piknik, dan sebagainya. Rekreasi adalah kegiatan aktif atau positif yang dilakukan dengan bebas dan kreatif dalam waktu senggang sebagai sehari-hari sesuai dengan bakat dan kegemarannya.



Daya tarik Ancol sebagai tempat rekreasi
Menurut Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, tempat rekreasi adalah sesuatu usaha yang menyediakan tempat dan berbagai jenis fasilitas untuk memberikan kesegaran jasmani dan rohani yang mengandung unsur hiburan, pendidikan dan kebudayaan sebagai usaha pokok di suatu kawasan tertentu dan dapat dilengkapi dengan penyediaan jasa layanan makanan dan minuman. Sedangkan sistem dalam suatu kawasan rekreasi sendiri merupakan perpaduan sub-sub sistem yang terdiri atas:
Sumber daya alam, yaitu hubungan timbal balik antara unsur unsur
tanah, air, flora dan fauna. Manusia, beserta komponen yang bervariasi: usia, pekerjaan, tingkat pendapatan dan pendidikan. Transportasi, merupakan penghubung antara kedua sub sistem di atas sehingga terjadi suatu kegiatan yang rekreatif.
Berdasarkan beberapa pemahaman di atas, maka kawasan rekreasi dapat diartikan sebagai tempat/ daerah yang disediakan untuk memberikan hiburan bagi setiap orang yang datang/ berkunjung. Hiburan tersebut dapat berupa panorama alam setempat, budaya maupun sarana dan prasarana yang ada dan dikelola oleh manusia menjadi suatu tempat yang bertujuan untuk mencari kesenangan yang ditujukan bagi kepuasan bathin manusia.

Komponen Rekreasi
Komponen rekreasi jika ditinjau dari elemen-elemen pembentuknya terdiri atas:
Komponen fisik alami
Perairan, berupa sungai, laut, danau, atau air terjun yang mempunyai kadar air potensial sebagai objek wisata. Udara, yaitu dengan udara bersih dan sejuk merupakan pendukung keberadaan daya tarik kawasan suatu objek rekreasi. Flora dan fauna, berbagai keragaman jenis vegetasi dan spesies hewan yang ada dan dapat dimanfaatkan potensinya sebagai pendukung daya tarik objek rekreasi.

Komponen buatan
Merupakan segala sesuatu buatan manusia yang bertujuan tertentu guna mendukung daya tarik suatu objek rekreasi, meliputi: Rekreatif penuh, ditujukan untuk mendukung fungsi rekreatif, misalnya: arena permainan air, kolam renang, playground, dan sebagainya. Rekreatif edukatif, bertujuan untuk mendidik dan menimba ilmu, misalnya pertunjukan seni, kebun tanaman langka, dan sebagainya.
Peranan fasilitas dari komponen penawaran rekreasi akan menentukan sejauh mana dukungannya terhadap obyek wisata dalam pengembangan kepariwisataan. Untuk mengetahui dukungan fasilitas apa saja terhadap obyek wisata diperlukan jaringan pergerakan yang berupa infrastruktur beserta rute dan moda transportasi dalam menghubungkan fasilitas pelengkap dan akomodasi yang tersedia.

Moment Atraksi Wisata
Atraksi yang diperlihatkan merupakan daya tarik utama mengapa seseorang datang berkunjung ke suatu tempat. Oleh karena itu keaslian dari atraksi wisata yangdisuguhkan haruslah diperhatikan sehingga hanya di tempat tersebut wisatawan dapat melihat dan menyaksikan obyek dan atraksi tersebut. Di Indonesia banyak terdapat tempat yang dijadikan atraksi wisata, misalnya kesenian rakyat tradisional, upacara adat, dan sebagainya. Atraksi wisata berpotensi sebagai daya tarik wisata. Kekhasannya suatu atraksi menyebabkan wisatawan mengunjungi obyek wisata. Atraksi merupakan salah satu penyebab pertumbuhan, jadi atraksi merupakan hal yang dapat menarik pengunjung ke sebuah obyek wisata, artinya pembangunan cenderung menjadi prioritas untuk dikembangkan terlebih dahulu.




Untuk mencapai hasil tersebut, perlu diperhatikan bahwa atraksi wisata yang baik adalah:
a. Kegiatan dan obyek yang merupakan atraksi itu sendiri harus dalam keadaan baik. Atraksi yang berupa warisan budaya harus dalam kondisi bagus terlebih dahulu sebelun diperlihatkan pada wisatawan, atraksi yang sudah dibenahi harus dipelihara baik-baik.
b. Karena atraksi wisata itu harus disajikan kepada wisatawan, maka cara penyajiannya harus tepat dengan mengatur perspektif ruang, perspektif waktu dan perspektif sosial budaya.
c. Keadaan di tempat atraksi harus dapat menahan wisatawan cukup lama. Dengan asumsi bahwa akan semakin besar keuntungan yang diharapkan dari kehadiran mereka. Wisatawan juga akan tahan tinggat lebih lama bila di tempat obyek wisata lingkungan bagus, fasilltas pendukung yang cukup di dalam obyek wisata.
d. Kesan yang diperoleh wisatawan waktu menyaksikan atraksi wisata harus diupayakan bertahan selama mungkin. Caranya dengan mengikatkan kesan itu pada obyek yang tidak cepat rusak dan dapat dibawa pulang.

Akomodasi yang berkesan
Cooper menyatakan bahwa akomodasi merupakan salah satu komponen produk wisata yang penting serta merupakan kebutuhan dasar bagi wisatawan selama mereka berada di daerah tujuan wisata. Fasilitas akomodasi adalah tempat menginap, makan/minum orang yang melakukan perjalanan. Dalam arti luas akomodasi dalam pariwisata sering diartikan sebagai hotel, restoran, tetapi ada juga yang lebih sempit yaitu sebagai Hotel dan berarti penginapan.

Transportasi yang nyaman
Peranan transportasi dalam pariwisata sangat penting. Tanpa transportasi sulit bagi wisatawan untuk melakukan perjalanan. Transportasi wisata pada hakekatnya adalah jasa untuk memindahkan wisatawan dari satu tempat ke tempat yang lain. Transportasi yang digunakan untuk memindahkan wisatawan tersebut dapat berupa ; model angkutan, route angkutan. Oleh sebab itu sarana transportasi umum sangat berpengaruh terhadap pengembangan pariwisata. Suatu obyek wisata kurang
mempunyai daya tarik jika tidak ditunjang oleh sarana transportasi umum untuk mencapainya.

Oleh karena itu kemudahan untuk mencapai suatu obyek, dengan tersedianya sarana transportasi umum akan menguntungkan banyak orang. Faktor yang mempengaruhi pada transportasi agar berfungsi dengan baik adalah ; kondisi perjalanan dan menghemat waktu. Kondisi perjalanan berhubungan erat dengan kenyamanan bagi wisatawan seperti fasilitas jalan dan fasilitas angkutannya itu sendiri, sedangkan menghemat waktu artinya semakin singkat waktu perjalanan ke tempat tujuan akan semakin baik.

Infrastruktur jangan mengecewakan
Masalah yang menghambat pengembangan pariwisata di Indonesia,sebenarnya tidak semata-mata terletak dari pembangunan fisik. Memang pariwisata erat hubungannya dengan bidang lain diantaranya prasarana perhubungan. Semakin meluas dan meningkatnya kualitas jaringan jalan, maka semakin meningkat pula jumlah dan frekuensi orang melakukan perjalanan wisata hal ini menunjukkan akan semakin meningkatkan aksesibilitas suatu wilayah. Infrastruktur atau prasarana yang mendukung kelengkapan suatu obyek wisata untuk melayani kebutuhan wisatawan dalam menikmati perjalanan wisatanya. Yang termasuk dengan infrastruktur adalah instalasi air bersih, instalasi air kotor, instalasi listrik, jalan raya, pelabuhan laut, pelabuhan udara, stastiun kereta api.
Fasilitas pendukung yang melayani
Ketersediaan fasilitas pendukung, baik di dalam maupun di luar obyek wisata akan mempengaruhi kedatangan wisatawan. Fasilitas pendukung tersebut bukan merupakan daya tarik utama dalam kepariwisataan, tetapi kehadirannya diperlukan bila hendak mengembangkan suatu daerah. Ketersediaan fasilitas pendukung tersebut seharusnya berdekatan dengan obyek wisata. Yang termasuk didalamnya adalah Bank, Apotik, Rumah Sakit, Pusat perbelanjaan, Restoran, Toko souvenir.

Menjadikan Ancol sebuah Kawasan Waterfront
Berdasarkan pengertiannya, kawasan waterfront memiliki beberapa pengertian. Berdasarkan sudut pandang pengertiannya maka kawasan waterfront dapat didefinisikan sebagai berikut:
Tanah atau tepi sungai, pelabuhan atau tanah semacam itu di sebuah kota dengan dermaganya.
Tepian laut atau bagian kota yang berbatasan dengan air, daerah pelabuhan pelabuhan.
Lahan atau area-area yang terletak berbatasan dengan air terutama merupakan bagian kota yang menghadap ke arah perairan baik berupa laut, sungai, danau, dan sejenisnya.
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan dalam konteks yang terkait dengan perkotaan. Pengertian waterfront adalah suatu area yang berbatasan dengan air yang memiliki kontak fisik dan visual dengan air laut, sungai, danau dan badan air lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan pengembangan waterfront adalah suatu usaha penataan dan pengembangan bagian atau kawasan kota yang skala kegiatan dan fungsi yang ada sangat beragam dengan intensitas tinggi sebagai kegiatan perkotaan baik untuk fungsi perumahan, pelabuhan dan perdagangan komersial dan industri hingga kawasan wisata. Secara umum waterfront berfungsi sebagai tempat dimana komunitas berkumpul untuk mengadakan suatu event atau festival, biasanya diadakan pada lapangan terbuka atau berumput dimana semua orang merasa diterima untuk datang.

Semua kawasan yang memiliki batasan antara daerah perairan dengan daratan dapat disebut sebagai kawasan waterfront. Dalam konteks yang lebih luas, daerahnperairan tersebut meliputi laut maupun sungai yang merupakan wadah aktivitas penduduk sekitarnya. Batasan-batasan yang dipakai dalam menentukan kawasan waterfront sangat beragam.
Perkembangan Waterfront di Kota-kota Besar Dunia Melihat sejarah perkembangan Waterfront di dunia tak lepas dari sejarah terbentuknya kota-kota di dunia. Seperti yang diungkapkan oleh Catanese bahwa perkembangan kota-kota di dunia sejak jaman kerajaan hingga munculnya revolusi industri telah mengubah pemikiran manusia untuk menata kota sedemikian rupa sehingga layak untuk dihuni dan nyaman serta indah. Adanya The City Beautiful Movement pada awal perempat abad ke-20 menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi kehidupan manusia.
Disadari atau tidak manusia membutuhkan sesuatu yang indah di lingkungannya. Taman, plasa, pelestarian, sungai dan public space lainnya amat dibutuhkan untuk memberikan ketenangan pikiran bagi manusia dari kehidupan sehari-hari. Area ini dapat menumbuhkan sifat sosial manusia. Kemudian muncul era baru dimana dunia dipenuhi oleh peperangan antar bangsa hingga tercipta Perang Dunia II. Kehancuran kota memunculkan paradigm baru untuk meningkatkan kesehatan kota. Maka muncullah konsep-konsep pengembangan kota yang menonjolkan keindahan kota dengan pertimbangan kelestarian lingkungan. Konsep inilah yang memicu pengembangan kawasan dalam kota termasuk kawasan tepi air menjadi kawasan yang ramah lingkungan.
Sejarah perkembangan kawasan waterfront di Indonesia pada masa lampau lebih banyak terjadi di kawasan-kawasan tepi pantai. . Hal ini terlihat pada sejarah kota-kota seperti Jakarta, Semarang, kota-kota di sepanjang Selat Malaka dan beberapa kota lainnya. Pada masa kolonial kota-kota pantai ini menjadi pusat-pusat perdagangan. Dalam perkembangan berikutnya berbagai kebudayaan dari berbagai daerah dan negara bertemu di wilayah tersebut. Pengaruh kebudayaan yang berbeda dari budaya yang ada mengakibatkan terjadinya perubahan sosial masyarakat setempat . Perubahan tersebut nampak pada pola kehidupan masyarakat yang semula sebagai nelayan, memanfaatkan sumberdaya alam yang ada disekitarnya, bergeser ke pola kehidupan masyarakat pedagang. Pola pergeseran dari sektor primer ke sektor sekunder ini terjadi sebagai suatu proses berkembangnya suatu kota.
Pola ini sama dengan teori perkembangan wilayah yang dikemukakan Clark dan Fisher pada tahun 1940 dimana suatu wilayah berkembang dari satu sektor ke sektor lain secara bertahap. Beberapa dasawarsa terakhir ini terjadi kecenderungan pemanfaatan kawasan waterfront sebagai kawasan industri dan wisata yang pengelolaannya lebih banyakdiserahkan kepada pihak swasta. Sayangnya pengelolaan tersebut cenderung mengabaikan faktor pelestarian lingkungan. Tercatat ribuan hutan bakau dan biota laut lainnya menjadi sasaran perusakan lahan.
Waterfront Tepi Laut
Merupakan area waterfront yang terjadi karena pertemuan langsung antara daratan dengan badan air yang berupa pantai dan tepian laut, secara umum memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
- Umumnya sebagai daerah pelabuhan samudera
- Sebagai area permukiman bagi nelayan
- Sebagai muara dari berbagai aliran sungai
- Pengembangannya dapat didominasi oleh karakteristik laut itu sendiri
Pengembangan waterfront dengan fungsi aktivitas rekreasi dapat didukung dengan berbagai fasilitas antara lain: taman bermain, taman air, taman duduk, taman hiburan, area untuk memancing, riverwalk, amphilhealre, dam, diving, pelabuhan, gardu pandang, fasilitas perkapalan, paviliun, fasililas olah raga, marina, museum, hotel, restoran, dan aquarium.Pengembangan waterfront harus selalu melibatkan aspek-aspek beriku Pengembangan waterfront memerlukan biaya yang sangat besar terlebih biladiperlukan relokasi fungsi yang telah ada dan penggunaan teknologi modern.
Proses ini juga meliputi pergantian secara fundamental area industri dari pusat kota ke daerah sub urban. Konsekuensinya adalah turunnya nilai lahan di pusat kota. Perkembangan kawasan waterfront merupakan gejala akibat dari mahal dan langkanya tanah perkotaan.

Kota Jakarta sangat dipengaruhi oleh banyak aspek baik yang ada di dalam maupun di luar kota tersebut, meliputi aspek sosial, ekonomi, fisik alam, politik,dan lain sebagainya. Semua aspek ini saling berkaitan satu sama lain sehingga memberikan ciri khas tersendiri. Penggunaan lahan merupakan pencerminan dari hubungan antara alam/ lahan dengan manusia dengan kegiatannya. Apabila jumlah manusia sangat kecil dibandingkan dengan luas wilayah/ kawasan, maka dapat diartikan penggunaan lahan belum banyak bervariasi sesuai dengan jenis kegiatan yang dilakukan.


Subyek : Lomba Jurnalis Ancol 2010
Nama : Ibrahim
Alamat : Lucky Abadi no 61 Tugu Depok Jawa Barat
HP : 085695558659







MENJADIKAN KAWASAN ANCOL MENUJU KAWASAN WATERFRONT CITY TINGKAT DUNIA
(sebuah kajian )

Rekreasi bermakna
Rekreasi merupakan suatu bentuk kegiatan yang khas), sebagai salah satu sikap ataupun sebagai suatu pendapat yang dianut terhadap suatu cara hidup yang khas. Rekreasi dapat dirasakan sebagai suatu bentuk pengalaman. Rekreasi dapat juga diartikan sebagai spirit hidup sehingga dapat dihubungkan dengan atau dianggap sebagai suatu pernyataan jiwa, bahkan beberapa orang dari kalangan pendidikan melihat rekreasi sebagai suatu cara atau metode sekaligus proses pendidikan. Dalam rekreasi terdapat elemen-elemen permainan sehingga orang-orang yang sedang berekreasi dikatakan mereka sedang bermain. Elemen bermain ini dibedakan untuk anak-anak, orang muda, serta orang dewasa.
Rekreasi adalah suatu aktivitas, kegiatan tersebut bersifat fisik, mental, maupun emosionil. Rekreasi menghendaki aktivitas dan tidak selalu bersifat non-aktif. Rekreasi dilakukan karena terdorong oleh keinginan atau mempunyai motif motif tersebut sekaligus memilih gerakan atau bentuk dan macam aktivitas yang hendak dilakukan. Rekreasi hanya dilakukan pada waktu senggang, ini berarti bahwa semua kegiatan yag tidak dilakukan dalam waktu senggang tersebut tidak dapat digolongkan sebagai kegiatan rekreasi.
Rekreasi dilakukan secara bebas dari segala bentuk dan macam paksaan; hal ini adalah penting bagi sifat kegiatan rekreasi sebagai outlet for the creative powers dan sebagai sarana untuk menyatakan diri secara bebas. Rekreasi bersifat universal; rekreasi hingga batas-batas tertentu telah merupakan bagian daripada kehidupan manusia, dari semua bangsa, dan tidak terbatas oleh umur,jenis kelamin, pangkat dan kedudukan sosial.
Rekreasi dilakukan selalu secara sungguh-sungguh dan mempunyai maksud maksud tertentu. Kesungguhan merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan kepuasan dan kesenangan. Rekreasi adalah fleksibel, berarti bahwa rekreasi tidak dibatasi oleh tempat, tetapi dapat dilakukan di mana saja sesuai bentuk dan macam kegiatan rekreasi dapat dilakukan. Selanjutnya rekreasi dapat juga dilakukan oleh perorangan maupun oleh kelompok orang. Rekreasi tidak dibatasi oleh kemampuan seseorang, baik orang miskin maupun kaya dapat menikmatinya. Rekreasi tidak dibatasi oleh fasilitas-fasilitas atau oleh alat-alat tertentu, tetapi rekreasi dapat dilakukan dengan alat-alat sederhana maupun dengan alat-alat baru yang lebih modern. Dari pengertian rekreasi yang telah diuraikan diatas penulis menyimpulkan bahwa rekreasi adalah kebutuhan dasar manusia yang dilakukan secara khas dengan berbagai cirinya.

Untuk apa rekreasi ?
Rekreasi merupakan salah satu kebutuhan fundamental manusia, melalui rekreasi orang dapat menjumpai, mengalami, dan menikmati kebahagiaan hidup. Adapun beberapa kegunaan rekreasi yang dihubungkan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat, diantaranya:
Rekreasi untuk kesehatan.
Rekreasi dapat menambah dan memelihara kesegaran dan kesehatan jasmani setiap individu. Bahkan beberapa bentuk kegiatan rekreasi tertentu dapat menambah stabilitas perkembangan fisik yang bersifat kreatif.
Rekreasi untuk mental
Rekreasi dapat membina sikap hidup sehat dan membahagiakan; rekreasi juga dapat menyediakan kemungkinan-kemungkinan untuk menyalurkan tenaga fisik dan daya pikiran yang kurang dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, rekreasi khususnya musik, kesenian, dan pekerjaan tangan tepat sekali untuk memperbaiki atau merehabilitir harga diri seseorang.

Rekreasi untuk pencegahan kriminalitas
Rekreasi dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kejahatan serta kenakalan anak-anak atau remaja. Dalam hal ini rekreasi bukan merupakan usaha untuk menghilangkan kejadian-kejadian tersebut tetapi berguna untuk menyalurkan ambisi dan kehausan akan aktivitas anak-anak dan remaja ke arah yang lebih berguna.
Manusia membutuhkan inspirasi. Pada saat orang merasakan dirinya kurang tenang, kurang percaya diri, menghadapi banyak tekanan hidup, maka melalui rekreasi dapat menimbulkan Segala sesuatu yang diselenggarakan dan diusahakan di bidang rekreasi untuk tujuan-tujuan kemajuan tersebut, meskipun membutuhkan banyak modal, tidak akan terbuang bahkan merupakan suatu capital investment yang sangat berharga.Demikian banyak dan beragamnya kegunaan rekreasi sehingga tidak sedikit orang mau mengorbankan dana untuk mendapatkan kepuasan dari berekreasi.
Kita mengenal kawasan wisata Ancol disamping sebagai tujuan wisata warga Jakarta juga kota lain disekitarnya. Kawasan ini merupakan kawasan terpadu dan terbesar di Asia saat ini dan upaya menjadi salah satu tujuan wisata pilihan kelas dunia. Sudah saatnya pihak manajement PT Pembangunan Jaya Ancol terus melakukan inovasi di berbagai hal. Sebagai warga negara Indonesia saya ingin sumbang saran kepada pihak menajement semoga bermanfaat. Saya sebagai pendidik akan memulai dari hal yang sederhana membekali masyarakat dengan paradigma baru tentang rekreasi, sehingga mereka mandapatkan manfaat maksimal ketika mereka melakukan kegiatan tersebut. Kata rekreasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu recreation yang berarti hiburan. Rekreasi berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti penyegaran kembali badan dan pikiran; sesuatu yang menggembirakan hati dan menyegarkan seperti hiburan, piknik, dan sebagainya. Rekreasi adalah kegiatan aktif atau positif yang dilakukan dengan bebas dan kreatif dalam waktu senggang sebagai sehari-hari sesuai dengan bakat dan kegemarannya.



Daya tarik Ancol sebagai tempat rekreasi
Menurut Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, tempat rekreasi adalah sesuatu usaha yang menyediakan tempat dan berbagai jenis fasilitas untuk memberikan kesegaran jasmani dan rohani yang mengandung unsur hiburan, pendidikan dan kebudayaan sebagai usaha pokok di suatu kawasan tertentu dan dapat dilengkapi dengan penyediaan jasa layanan makanan dan minuman. Sedangkan sistem dalam suatu kawasan rekreasi sendiri merupakan perpaduan sub-sub sistem yang terdiri atas:
Sumber daya alam, yaitu hubungan timbal balik antara unsur unsur
tanah, air, flora dan fauna. Manusia, beserta komponen yang bervariasi: usia, pekerjaan, tingkat pendapatan dan pendidikan. Transportasi, merupakan penghubung antara kedua sub sistem di atas sehingga terjadi suatu kegiatan yang rekreatif.
Berdasarkan beberapa pemahaman di atas, maka kawasan rekreasi dapat diartikan sebagai tempat/ daerah yang disediakan untuk memberikan hiburan bagi setiap orang yang datang/ berkunjung. Hiburan tersebut dapat berupa panorama alam setempat, budaya maupun sarana dan prasarana yang ada dan dikelola oleh manusia menjadi suatu tempat yang bertujuan untuk mencari kesenangan yang ditujukan bagi kepuasan bathin manusia.

Komponen Rekreasi
Komponen rekreasi jika ditinjau dari elemen-elemen pembentuknya terdiri atas:
Komponen fisik alami
Perairan, berupa sungai, laut, danau, atau air terjun yang mempunyai kadar air potensial sebagai objek wisata. Udara, yaitu dengan udara bersih dan sejuk merupakan pendukung keberadaan daya tarik kawasan suatu objek rekreasi. Flora dan fauna, berbagai keragaman jenis vegetasi dan spesies hewan yang ada dan dapat dimanfaatkan potensinya sebagai pendukung daya tarik objek rekreasi.

Komponen buatan
Merupakan segala sesuatu buatan manusia yang bertujuan tertentu guna mendukung daya tarik suatu objek rekreasi, meliputi: Rekreatif penuh, ditujukan untuk mendukung fungsi rekreatif, misalnya: arena permainan air, kolam renang, playground, dan sebagainya. Rekreatif edukatif, bertujuan untuk mendidik dan menimba ilmu, misalnya pertunjukan seni, kebun tanaman langka, dan sebagainya.
Peranan fasilitas dari komponen penawaran rekreasi akan menentukan sejauh mana dukungannya terhadap obyek wisata dalam pengembangan kepariwisataan. Untuk mengetahui dukungan fasilitas apa saja terhadap obyek wisata diperlukan jaringan pergerakan yang berupa infrastruktur beserta rute dan moda transportasi dalam menghubungkan fasilitas pelengkap dan akomodasi yang tersedia.

Moment Atraksi Wisata
Atraksi yang diperlihatkan merupakan daya tarik utama mengapa seseorang datang berkunjung ke suatu tempat. Oleh karena itu keaslian dari atraksi wisata yangdisuguhkan haruslah diperhatikan sehingga hanya di tempat tersebut wisatawan dapat melihat dan menyaksikan obyek dan atraksi tersebut. Di Indonesia banyak terdapat tempat yang dijadikan atraksi wisata, misalnya kesenian rakyat tradisional, upacara adat, dan sebagainya. Atraksi wisata berpotensi sebagai daya tarik wisata. Kekhasannya suatu atraksi menyebabkan wisatawan mengunjungi obyek wisata. Atraksi merupakan salah satu penyebab pertumbuhan, jadi atraksi merupakan hal yang dapat menarik pengunjung ke sebuah obyek wisata, artinya pembangunan cenderung menjadi prioritas untuk dikembangkan terlebih dahulu.




Untuk mencapai hasil tersebut, perlu diperhatikan bahwa atraksi wisata yang baik adalah:
a. Kegiatan dan obyek yang merupakan atraksi itu sendiri harus dalam keadaan baik. Atraksi yang berupa warisan budaya harus dalam kondisi bagus terlebih dahulu sebelun diperlihatkan pada wisatawan, atraksi yang sudah dibenahi harus dipelihara baik-baik.
b. Karena atraksi wisata itu harus disajikan kepada wisatawan, maka cara penyajiannya harus tepat dengan mengatur perspektif ruang, perspektif waktu dan perspektif sosial budaya.
c. Keadaan di tempat atraksi harus dapat menahan wisatawan cukup lama. Dengan asumsi bahwa akan semakin besar keuntungan yang diharapkan dari kehadiran mereka. Wisatawan juga akan tahan tinggat lebih lama bila di tempat obyek wisata lingkungan bagus, fasilltas pendukung yang cukup di dalam obyek wisata.
d. Kesan yang diperoleh wisatawan waktu menyaksikan atraksi wisata harus diupayakan bertahan selama mungkin. Caranya dengan mengikatkan kesan itu pada obyek yang tidak cepat rusak dan dapat dibawa pulang.

Akomodasi yang berkesan
Cooper menyatakan bahwa akomodasi merupakan salah satu komponen produk wisata yang penting serta merupakan kebutuhan dasar bagi wisatawan selama mereka berada di daerah tujuan wisata. Fasilitas akomodasi adalah tempat menginap, makan/minum orang yang melakukan perjalanan. Dalam arti luas akomodasi dalam pariwisata sering diartikan sebagai hotel, restoran, tetapi ada juga yang lebih sempit yaitu sebagai Hotel dan berarti penginapan.

Transportasi yang nyaman
Peranan transportasi dalam pariwisata sangat penting. Tanpa transportasi sulit bagi wisatawan untuk melakukan perjalanan. Transportasi wisata pada hakekatnya adalah jasa untuk memindahkan wisatawan dari satu tempat ke tempat yang lain. Transportasi yang digunakan untuk memindahkan wisatawan tersebut dapat berupa ; model angkutan, route angkutan. Oleh sebab itu sarana transportasi umum sangat berpengaruh terhadap pengembangan pariwisata. Suatu obyek wisata kurang
mempunyai daya tarik jika tidak ditunjang oleh sarana transportasi umum untuk mencapainya.

Oleh karena itu kemudahan untuk mencapai suatu obyek, dengan tersedianya sarana transportasi umum akan menguntungkan banyak orang. Faktor yang mempengaruhi pada transportasi agar berfungsi dengan baik adalah ; kondisi perjalanan dan menghemat waktu. Kondisi perjalanan berhubungan erat dengan kenyamanan bagi wisatawan seperti fasilitas jalan dan fasilitas angkutannya itu sendiri, sedangkan menghemat waktu artinya semakin singkat waktu perjalanan ke tempat tujuan akan semakin baik.

Infrastruktur jangan mengecewakan
Masalah yang menghambat pengembangan pariwisata di Indonesia,sebenarnya tidak semata-mata terletak dari pembangunan fisik. Memang pariwisata erat hubungannya dengan bidang lain diantaranya prasarana perhubungan. Semakin meluas dan meningkatnya kualitas jaringan jalan, maka semakin meningkat pula jumlah dan frekuensi orang melakukan perjalanan wisata hal ini menunjukkan akan semakin meningkatkan aksesibilitas suatu wilayah. Infrastruktur atau prasarana yang mendukung kelengkapan suatu obyek wisata untuk melayani kebutuhan wisatawan dalam menikmati perjalanan wisatanya. Yang termasuk dengan infrastruktur adalah instalasi air bersih, instalasi air kotor, instalasi listrik, jalan raya, pelabuhan laut, pelabuhan udara, stastiun kereta api.
Fasilitas pendukung yang melayani
Ketersediaan fasilitas pendukung, baik di dalam maupun di luar obyek wisata akan mempengaruhi kedatangan wisatawan. Fasilitas pendukung tersebut bukan merupakan daya tarik utama dalam kepariwisataan, tetapi kehadirannya diperlukan bila hendak mengembangkan suatu daerah. Ketersediaan fasilitas pendukung tersebut seharusnya berdekatan dengan obyek wisata. Yang termasuk didalamnya adalah Bank, Apotik, Rumah Sakit, Pusat perbelanjaan, Restoran, Toko souvenir.

Menjadikan Ancol sebuah Kawasan Waterfront
Berdasarkan pengertiannya, kawasan waterfront memiliki beberapa pengertian. Berdasarkan sudut pandang pengertiannya maka kawasan waterfront dapat didefinisikan sebagai berikut:
Tanah atau tepi sungai, pelabuhan atau tanah semacam itu di sebuah kota dengan dermaganya.
Tepian laut atau bagian kota yang berbatasan dengan air, daerah pelabuhan pelabuhan.
Lahan atau area-area yang terletak berbatasan dengan air terutama merupakan bagian kota yang menghadap ke arah perairan baik berupa laut, sungai, danau, dan sejenisnya.
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan dalam konteks yang terkait dengan perkotaan. Pengertian waterfront adalah suatu area yang berbatasan dengan air yang memiliki kontak fisik dan visual dengan air laut, sungai, danau dan badan air lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan pengembangan waterfront adalah suatu usaha penataan dan pengembangan bagian atau kawasan kota yang skala kegiatan dan fungsi yang ada sangat beragam dengan intensitas tinggi sebagai kegiatan perkotaan baik untuk fungsi perumahan, pelabuhan dan perdagangan komersial dan industri hingga kawasan wisata. Secara umum waterfront berfungsi sebagai tempat dimana komunitas berkumpul untuk mengadakan suatu event atau festival, biasanya diadakan pada lapangan terbuka atau berumput dimana semua orang merasa diterima untuk datang.

Semua kawasan yang memiliki batasan antara daerah perairan dengan daratan dapat disebut sebagai kawasan waterfront. Dalam konteks yang lebih luas, daerahnperairan tersebut meliputi laut maupun sungai yang merupakan wadah aktivitas penduduk sekitarnya. Batasan-batasan yang dipakai dalam menentukan kawasan waterfront sangat beragam.
Perkembangan Waterfront di Kota-kota Besar Dunia Melihat sejarah perkembangan Waterfront di dunia tak lepas dari sejarah terbentuknya kota-kota di dunia. Seperti yang diungkapkan oleh Catanese bahwa perkembangan kota-kota di dunia sejak jaman kerajaan hingga munculnya revolusi industri telah mengubah pemikiran manusia untuk menata kota sedemikian rupa sehingga layak untuk dihuni dan nyaman serta indah. Adanya The City Beautiful Movement pada awal perempat abad ke-20 menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi kehidupan manusia.
Disadari atau tidak manusia membutuhkan sesuatu yang indah di lingkungannya. Taman, plasa, pelestarian, sungai dan public space lainnya amat dibutuhkan untuk memberikan ketenangan pikiran bagi manusia dari kehidupan sehari-hari. Area ini dapat menumbuhkan sifat sosial manusia. Kemudian muncul era baru dimana dunia dipenuhi oleh peperangan antar bangsa hingga tercipta Perang Dunia II. Kehancuran kota memunculkan paradigm baru untuk meningkatkan kesehatan kota. Maka muncullah konsep-konsep pengembangan kota yang menonjolkan keindahan kota dengan pertimbangan kelestarian lingkungan. Konsep inilah yang memicu pengembangan kawasan dalam kota termasuk kawasan tepi air menjadi kawasan yang ramah lingkungan.
Sejarah perkembangan kawasan waterfront di Indonesia pada masa lampau lebih banyak terjadi di kawasan-kawasan tepi pantai. . Hal ini terlihat pada sejarah kota-kota seperti Jakarta, Semarang, kota-kota di sepanjang Selat Malaka dan beberapa kota lainnya. Pada masa kolonial kota-kota pantai ini menjadi pusat-pusat perdagangan. Dalam perkembangan berikutnya berbagai kebudayaan dari berbagai daerah dan negara bertemu di wilayah tersebut. Pengaruh kebudayaan yang berbeda dari budaya yang ada mengakibatkan terjadinya perubahan sosial masyarakat setempat . Perubahan tersebut nampak pada pola kehidupan masyarakat yang semula sebagai nelayan, memanfaatkan sumberdaya alam yang ada disekitarnya, bergeser ke pola kehidupan masyarakat pedagang. Pola pergeseran dari sektor primer ke sektor sekunder ini terjadi sebagai suatu proses berkembangnya suatu kota.
Pola ini sama dengan teori perkembangan wilayah yang dikemukakan Clark dan Fisher pada tahun 1940 dimana suatu wilayah berkembang dari satu sektor ke sektor lain secara bertahap. Beberapa dasawarsa terakhir ini terjadi kecenderungan pemanfaatan kawasan waterfront sebagai kawasan industri dan wisata yang pengelolaannya lebih banyakdiserahkan kepada pihak swasta. Sayangnya pengelolaan tersebut cenderung mengabaikan faktor pelestarian lingkungan. Tercatat ribuan hutan bakau dan biota laut lainnya menjadi sasaran perusakan lahan.
Waterfront Tepi Laut
Merupakan area waterfront yang terjadi karena pertemuan langsung antara daratan dengan badan air yang berupa pantai dan tepian laut, secara umum memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
- Umumnya sebagai daerah pelabuhan samudera
- Sebagai area permukiman bagi nelayan
- Sebagai muara dari berbagai aliran sungai
- Pengembangannya dapat didominasi oleh karakteristik laut itu sendiri
Pengembangan waterfront dengan fungsi aktivitas rekreasi dapat didukung dengan berbagai fasilitas antara lain: taman bermain, taman air, taman duduk, taman hiburan, area untuk memancing, riverwalk, amphilhealre, dam, diving, pelabuhan, gardu pandang, fasilitas perkapalan, paviliun, fasililas olah raga, marina, museum, hotel, restoran, dan aquarium.Pengembangan waterfront harus selalu melibatkan aspek-aspek beriku Pengembangan waterfront memerlukan biaya yang sangat besar terlebih biladiperlukan relokasi fungsi yang telah ada dan penggunaan teknologi modern.
Proses ini juga meliputi pergantian secara fundamental area industri dari pusat kota ke daerah sub urban. Konsekuensinya adalah turunnya nilai lahan di pusat kota. Perkembangan kawasan waterfront merupakan gejala akibat dari mahal dan langkanya tanah perkotaan.

Kota Jakarta sangat dipengaruhi oleh banyak aspek baik yang ada di dalam maupun di luar kota tersebut, meliputi aspek sosial, ekonomi, fisik alam, politik,dan lain sebagainya. Semua aspek ini saling berkaitan satu sama lain sehingga memberikan ciri khas tersendiri. Penggunaan lahan merupakan pencerminan dari hubungan antara alam/ lahan dengan manusia dengan kegiatannya. Apabila jumlah manusia sangat kecil dibandingkan dengan luas wilayah/ kawasan, maka dapat diartikan penggunaan lahan belum banyak bervariasi sesuai dengan jenis kegiatan yang dilakukan.


Subyek : Lomba Jurnalis Ancol 2010
Nama : Ibrahim
Alamat : Jl Lucky Abadi No 61,Depok Jawa Barat
HP : 085695558659

Selasa, 24 Agustus 2010

Landasan Teoretis Penyelenggaraan Pendidikan CI/BI

Penggunaan istilah potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berkait erat dengan latar belakang teoritis yang digunakan. Potensi Kecerdasan berhubungan dengan kemampuan intelektual, sedangkan bakat tidak hanya terbatas pada kemampuan intelektual. Pendapat ini mula-mula dikemukakan oleh United States Office of Education (Feldhusen, 1994) bahwa anak berbakat adalah anak yang diidentifikasi oleh orang dengan kualifikasi profesional. Anak-anak yang telah mampu menunjukkan prestasinya dan atau berupa potensi kemampuan pada beberapa bidang seperti: (1) kemampuan inteligensi umum; (2) kemampuan akademik khusus (specific academic aptitude); (3) berpikir produktif atau kreatif; (4) kemampuan kepemimpinan; (5) kemampuan di bidang seni; (6) kemampuan psikomotorik.
Dalam mengidentifikasi peserta didik cerdas istimewa menggunakan pendekatan multidimensional. Artinya kriteria yang digunakan lebih dari satu (bukan sekedar intelligensi). Batasan yang digunakan adalah peserta didik yang memiliki dimensi kemampuan umum pada taraf cerdas ditetapkan skor IQ 130 ke atas dengan pengukuran menggunakan skala Wechsler (Pada alat tes yang lain = rerata skor IQ ditambah dua standar deviasi), dimensi kreativitas tinggi (ditetapkan skor CQ dalam nilai baku tinggi atau plus satu standar deviasi di atas rerata) dan pengikatan diri (task commitment) terhadap tugas baik (ditetapkan skor TC dalam kategori nilai baku baik, atau plus satu standar deviasi di atas rerata).
Konsepsi Tiga Cincin dari Renzulli (1978, 2005) banyak digunakan dalam menyusun pendidikan untuk anak cerdas istimewa, dan merupakan teori yang mendasari pengembangan pendidikan anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (Gifted and Talented children). Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli menentukan giftedness sebagai saling keterkaitan antara tiga komponen yang penting yaitu:
1. Kemampuan umum (kapasitas intelektual) dan/atau kemampuan khusus di atas rata-rata
2. Kreativitas yang tinggi
3. Komitmen terhadap tugas yang tinggi
Penggunaan model Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan Renzulli, jika dalam identifikasinya lebih berorientasi pada psikotes dan prestasi, masih belum menyentuh seluruh populasi anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (gifted and talented). Ada beberapa kelompok anak berbakat yang kemungkinan besar terlewatkan dengan model identifikasi semacam itu, seperti: anak-anak yang cerdas istimewa namun memiliki kesenjangan tinggi antara kemampuan dan kinerja atau prestasinya (underachiever). Selain itu juga ada anak-anak cerdas istimewa yang memiliki kesenjangan tinggi diantara domain kemampuannya berdasarkan tes-tes kecerdasan yang baku, prestasi maupun bakat dengan ketimpangan kemampuan kognisi dan kemampuan adaptif serta prestasi di lapangan. Kategori-kategori ini masih belum memiliki tempat dalam konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan Renzulli tersebut (Adinugroho-Horstman, 2007).
Dalam upaya mengatasi kondisi di atas, muncullah konsep The Triadich dari Renzulli-Mönks yang merupakan pengembangan dari Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli. Model Renzulli-Mönks ini disebut sebagai model multifaktor yang melengkapi Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli. Dalam model multifaktornya Mönks mengatakan bahwa potensi kecerdasan istimewa (giftedness) yang dikemukakan oleh Renzulli itu tidak akan terwujud jika tidak mendapatkan dukungan yang baik dari sekolah, keluarga, dan lingkungan di mana si anak tinggal (Mönks dan Ypenburg, 1995).
Dengan model multifaktor maka pendidikan anak cerdas istimewa tidak dapat dilepaskan dari peran orang tua dan lingkungan dalam menanggapi gejala-gejala kecerdasan istimewa (giftedness), toleran terhadap berbagai karakteristik yang ditampilkannya baik yang positif maupun berbagai gangguan tumbuh kembangnya yang menjadi penyulit baginya, serta dalam mengupayakan layanan pendidikannya. Lebih lanjut model pendekatan ini menuntut keterlibatan pihak orang tua dalam pengasuhan di rumah agar berpartisipasi secara penuh dan simultan dengan layanan pendidikan terhadap anak di sekolah.
Model Triadich Renzulli-Mönks menuntut sistem pendidikan, keluarga, dan lingkungan untuk dapat memberikan dukungan yang baik dan mengupayakan agar anak didik dapat mencapai prestasi istimewanya, sehingga diharapkan tidak akan terjadi adanya kondisi berprestasi rendah (underachiever) pada seorang anak cerdas istimewa. Dengan model pendekatan teori ini juga, maka anak-anak yang mempunyai ciri-ciri berkecerdasan istimewa (dengan ciri-ciri tumbuh kembang, ciri-ciri personalitas, dan ciri-ciri intelektual) sekalipun underachiever masih dapat terdeteksi sebagai anak berkecerdasan istimewa yang memerlukan dukungan dari sekolah, keluarga dan lingkungan agar ia dapat mencapai prestasi yang istimewa sesuai potensinya.
Model pendekatan multifaktor lebih fleksibel dalam melakukan deteksi dan diagnosis anak cerdas istimewa, terutama dalam menghadapi anak-anak dengan kondisi tumbuh kembang yang mengalami disinkronitas yang besar dan penting, berkesulitan dan bergangguan belajar (learning difficulties dan learning disabilities), serta yang mengalami komorbiditas dengan gangguan lainnya (gangguan emosi dan perilaku yang patologis). Fleksibilitas dalam melakukan deteksi yang dimaksud adalah dimungkinkannya penggunaan daftar dan alat-alat ukur asesmen yang lebih beragam (Mönks dan Pflüger, 2005).
Heller (2004) mengembangkan model multifaktor yang pada dasarnya merupakan pengembangan dari Triadic Interdependence model Mönks serta Multiple Intelligences dari Howard Gardner. Menurut Heller konsep keberbakatan dapat ditinjau berdasarkan empat dimensi multifaktor yang saling terkait satu sama lain: (1) faktor talenta (talent) yang relatif mandiri (relatif mandiri); (2) faktor kinerja (performance); (3) faktor kepribadian; dan (4) faktor lingkungan; Dua faktor terakhir menjadi perantara untuk terjadinya transisi dari talenta menjadi kinerja.
Faktor bakat (talent) sebagai potensi yang ada dalam individu dapat meramalkan aktualisasi kinerja (performance) dalam area yang spesifik. Bakat ini mencakup tujuh area yang masing-masing berdiri sendiri, yaitu: kemampuan intelektual, kemampuan kreatif, kompetensi sosial, kecerdasan praktis, kemampuan artistik, musikalitas, dan keterampilan psikomotor. Sementara itu Faktor kinerja (performance) meliputi delapan area kinerja, yaitu: matematika, ilmu pengetahuan alam, teknologi, komputer, seni (musik, lukis), bahasa, olah raga, serta relasi sosial.
Bakat (talent) dapat berkembang menjadi kinerja dengan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu: (1) karakteristik kepribadian yang mencakup: cara mengatasi stres, motivasi berprestasi, strategi belajar dan strategi kerja, harapan-harapan akan pengendalian, harapan akan keberhasilan atau kegagalan, dan kehausan akan pengetahuan; serta (2) kondisi-kondisi lingkungan yang mencakup: iklim keluarga, jumlah saudara dan kedudukan dalam keluarga, tingkat pendidikan orang tua, stimulasi lingkungan rumah, tuntutan dan kinerja yang ada di rumah, lingkungan belajar, kualitas pembelajaran, iklim kelas, dan peristiwa-peristiwa kritis.

Di dalam proses terwujudnya bakat menjadi kinerja, bakat juga dapat mempengaruhi faktor kepribadian dan kondisi lingkungan. Misalnya bakat yang ada pada anak dapat mempengaruhi bagaimana orangtua atau guru memperlakukannya. Di dalam proses terwujudnya kinerja, bakat juga dapat mempengaruhi faktor kepribadian dan kondisi lingkungan. Misalnya bakat yang ada pada anak dapat mempengaruhi bagaimana anak tersebut menjadi semakin ulet dan tekun atau bakat yang dimiliki juga akan berpengaruh terhadap sikap orangtua atau guru terhadap anak sehingga berpengaruh terhadap cara memperlakukan si anak.
Pada dasarnya, ciri-ciri yang dimiliki peserta didik cerdas dan/atau berbakat istimewa serupa dengan peserta pada umumnya, yaitu ada sisi positif dan sisi negatif. Sebagaimana anak pada umumnya, anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa mempunyai kebutuhan pokok akan pengertian, penghargaan, dan perwujudan diri. Apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, mereka akan menderita kecemasan dan keragu-raguan. Jika minat, tujuan, dan cara laku mereka yang berbeda dengan peserta didik pada umumnya, tidak memperoleh pengakuan, maka mereka walaupun memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa akan mengalami kesulitan. Hal ini nyata dari daftar yang disusun oleh Seogoe (dikutip oleh Martinson, 1974) yang menunjukkan bahwa ciri-ciri tertentu dari peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa dapat atau mungkin mengakibatkan timbulnya masalah-masalah tertentu, misalnya :
1. Kemampuan berpikir kritis dapat mengarah ke arah sikap meragukan (skeptis), baik terhadap diri sendiri maupun terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain ;
2. Kemampuan kreatif dan minat untuk melakukan hal-hal yang baru, bisa menyebabkan mereka tidak menyukai atau lekas bosan terhadap tugas-tugas rutin ;
3. Perilaku yang ulet dan terarah pada tujuan, dapat menjurus ke keinginan untuk memaksakan atau mempertahankan pendapatnya ;
4. Kepekaan yang tinggi, dapat membuat mereka menjadi mudah tersinggung atau peka terhadap kritik ;
5. Semangat, kesiagaan mental, dan inisiatifnya yang tinggi, dapat membuat kurang sabar dan kurang tenggang rasa jika tidak ada kegiatan atau jika kurang tampak kemajuan dalam kegiatan yang sedang berlangsung ;
6. Dengan kemampuan dan minatnya yang beraneka ragam, mereka membutuhkan keluwesan serta dukungan untuk dapat menjajaki dan mengembangkan minatnya ;
7. Keinginan mereka untuk mandiri dalam untuk mandiri dalam belajar dan bekerja, serta kebutuhannya akan kebebasan, dapat menimbulkan konflik karena tidak mudah menyesuaikan diri atau tunduk terhadap tekanan dari orang tua, sekolah, atau teman-temannya. Ia juga bisa merasa ditolak atau kurang dimengerti oleh lingkungannya ;
8. Sikap acuh tak acuh dan malas, dapat timbul karena pengajaran yang diberikan di sekolah kurang mengundang tantangan baginya.
Selain itu, berdasarkan penelitian Herry (1993), mereka juga suka mengganggu teman-teman sekitarnya. Hal ini disebabkan karena mereka lebih cepat memahami materi pelajaran yang diterangkan guru di depan kelas dibandingkan teman-temannya. Dengan diterangkan sekali saja, mereka telah dapat menangkap maksudnya, sedangkan peserta didik yang lain masih perlu dijelaskan lagi; mereka banyak waktu terluang, yang kemudian apabila kurang diantisipasi oleh gurunya, akan digunakan untuk mengadakan aktivitas sekehendaknya (usil), misalnya mencubit atau melemparkan benda-benda kecil/kapur keteman-teman sekitarnya.


Akibat lebih lanjut, mereka dapat menjadi anak yang berprestasi di bawah potensinya (underachiever) atau bahkan malah mungkin menjadi anak yang bermasalah (mengalami kesulitan belajar). Hal ini tampak dari hasil penelitian Herry dkk.(1996) terhadap peserta didik SD di provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Kalimantan Barat, yang menunjukkan bahwa 22% dari peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa beresiko tinggal kelas (nilai rata-rata rapornya kurang dari 6,00). Demikian pula hasil penelitian Herry, dkk., (1997) terhadap peserta didik SLTP di empat provinsi yang sama menunjukkan bahwa 20% dari peserta didik SLTP yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa juga beresiko tinggal kelas. Sementara itu, hasil penelitian Yaumil Achir (1990) di Jakarta terhadap peserta didik SMA yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa menunjukkan bahwa sekitar 38,7% dari sampel tergolong underachiever..
Keadaan di atas tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga terjadi di negara lain. Beberapa penelitian di negara maju, seperti Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 15-50% dari peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa tergolong underachiever (Marland, dikutip Utami Munandar, 1999). Di Inggris sekitar 25% (Pringle, dikutip Utami Munandar, 1999) Sementara itu hasil penelitian Balitbang Diknas (1998) menyimpulkan ada dua faktor yang menyebabkan peserta didik cerdas istimewa mengalami gejala prestasi kurang (underachiever), yaiatu: (1) lingkungan belajar yang kurang menantang mereka untuk mewujudkan potensinya secara optimal dan (2) model pembelajaran yang kurang kondusif.
Sumber: Pedoman Akselerasi, Dit PLB 2007.